Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan

Soul Family, 6 Tanda Kamu Bertemu Keluarga Jiwamu!

6 Tanda Kamu Bertemu Keluarga Jiwamu! 

Pernahkan Anda bertemu seseorang dan merasa seperti Anda mengenalinya sejak lama? Seperti perasaan familiar sekalipun belum pernah bertemu secara fisik sekalipun?

Hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa Anda bertemu keluarga jiwa Anda, atau yang sering disebut dengan soul family.


Apa itu Keluarga Jiwa atau Soul family ?

Soul family atau keluarga jiwa adalah beberapa orang yang memiliki kesesuaian energi atau lebih mudah dikatakan dengan orang-orang yang berada dalam frekuensi dan vibrasi yang sama dengan Anda, hal ini mencakup perkembangan fisik, mental, dan spiritual. Bila memahami makna kesatuan utuh pada postingan "Memahami Makna Oneness" , kita akan mengerti bahwa kita semua terhubung. Kita terbentuk dari energi yang terkoneksi satu sama lain. Bila hubungan satu individu dengan semua orang di dunia dianalogikan sebagai lautan yang luas, soul family merupakan orang-orang yang terbentuk dan berada pada gelombang yang sama dengan kita.

Mengapa soul family hadir?

Tujuan besar pertemuan Anda dengan keluarga jiwa Anda tidak lain untuk perkembangan, pembelajaran dan memberikan pengalaman dalam hidup satu sama lain. Keluarga jiwa Anda hadir sebagai guru hidup, yang berorientasi pada evolusi jiwa Anda. Namun selayaknya guru, ada kalanya seorang guru akan mengajarkan dengan lembut dan penuh kasih sayang, ada kalanya juga guru tersebut akan mengajarkan dari cara yang menyakitkan. Hal ini juga yang membedakan hubungan  antara soulmate, karmic, dan kembaran jiwa Anda. Dan perlu kita ketahui, kita bisa memiliki banyak soulmate, yang datang dalam bentuk persahabatan, keluarga, dan juga percintaan.

Entah untuk sementara atau untuk menemani Anda dalam jangka waktu yang lama, setiap pertemuan dengan keluarga jiwa Anda akan memberikan perubahan pada hidup Anda.

Ciri-ciri Soul family !

1. Kontak Mata Yang Dalam

Ciri utama bila seseorang merupakan keluarga jiwa Anda  adalah sorot mata yang membuat Anda merasa tidak asing ketika pertama kali bertemu dengan mereka. Anda seolah mengenali mereka,  seperti apa yang banyak dikatakan orang : Mata merupakan jendela jiwa!

2. Kesesuaian Vibrasi

Satu hal yang membuat Anda mudah beradaptasi dengan keluarga jiwa Anda adalah karena kesesuaian vibrasi, manusia terbentuk dari energi, dan tidak sulit bagi Anda melakukan pengenalan satu sama lain. Namun kesesuaian vibrasi tidak selalu diartikan dengan memiliki karakter atau sifat yang sama, bila Anda bertemu dengan seseorang dan merasa Anda satu frekuensi, Anda merasa memiliki sifat dan karakter yang sama dengan mereka, hal itu bisa mengindikasi bahwa hubungan jiwa  yang datang adalah soulmate atau pasangan jiwa. Kalian akan merasakan kecocokan dalam berbagai hal.  Anda dapat memiliki banyak soulmate dalam hidup Anda.

Bila Anda bertemu seseorang dan merasa seperti melihat sebuah refleksi, seolah bila Anda menunjuk kesalahan mereka –namun jemari Anda justru berbalik pada diri sendiri, besar kemungkinan hubungan jiwa Anda adalah kembaran jiwa. Kembar di sini lebih bersifat mirroring, orang ini cenderung memiliki sifat dan karakter yang biasanya bertolak belakang dengan Anda, namun secara tidak sadar –memiliki nilai dan misi jiwa yang sama. Bila Anda bertemu dengannya, Anda akan merasakan bahwa Anda tidak  bisa menemukan orang yang sama seperti kembaran jiwa  Anda. Kembaran jiwa Anda hanya ada 1 selama hidup Anda. 

Dan yang terakhir adalah karmic, yang hadir dengan memberikan pembelajaran dengan cara yang menyakitkan. 

3. Keluarga Jiwa Anda Menarik Anda

Ada hal yang selalu terjadi pada diri saya ketika saya bertemu dengan keluarga jiwa saya. Secara tidak sadar ketika saya pertama kali melihat mereka, sesuatu menarik saya untuk menjatuhkan pandangan saya pada mereka, tanpa ada rasa tertarik, tanpa merasakan emosi apapun, entah mereka lelaki atau perempuan, saya bisa tiba-tiba menjatuhkan pandangan saya pada mereka. It just blank!

Dan hal menarik lainnya, saya akan ingat bagaimana pertama kali saya bertemu dengan keluarga jiwa saya—di ruang mana saya bertemu mereka, apa yang mereka lakukan, bahkan keadaan di sekitar, semua seperti tersimpan dalam pikiran saya.

Ketika Anda bertemu keluarga jiwa Anda, Anda akan menjatuhkan perhatian Anda pada mereka, ada sebuah magnet yang membuat Anda merasa terhubung! Dan bila saat itu Anda belum menyadari keberadaan mereka, keluarga jiwa Anda sendiri yang akan menemukan Anda dan mencoba terhubung dengan Anda.

3. Anda Merasa Seolah Mengenali Mereka Sejak Lama

Dari banyak keluarga jiwa yang saya temui, ada satu hal yang saya ingat karena saya rasa sedikit unik. Saya pernah bertemu dengan salah satu soulmate di sebuah perjalanan kereta, kami memiliki rentang usia lebih dari 11 tahun, namun anehnya, percakapan kami mengalir dan selalu terhubung (bahkan untuk topik yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya), hal ini terjadi karena soul family memiliki core value yang sama satu sama lain. Anda bisa berbicara dengan mereka seolah Anda bisa menjadi diri Anda sendiri. Anda bisa dengan mudah melakukan penyesuaian dan memahami mereka dengan cepat.

4. Memahami Bahasa Tubuh Satu Sama Lain

Anda tidak perlu mempelajari bagaimana bahasa tubuh seseorang, Anda juga tidak perlu mencoba mengamati gerak-gerik mereka dengan sulit. Dengan keluarga jiwa Anda, semua  terasa  mengalir, Anda seolah mengerti bagaimana cara komunikasi mereka, Anda memahami apa yang ingin mereka sampaikan!

5. Kehadiran Mereka Memberikan Perkembangan Pada Hidup Anda!

Hal terakhir yang dapat Anda sadari bila Anda bertemu dengan keluarga jiwa Anda adalah : Anda akan mendapatkan perubahan dalam diri Anda, entah perubahan signifikan, atau perubahan kecil yang tidak Anda sadari. Bahkan bila Anda hanya bertemu dalam satu hari, hanya bertemu untuk sementara waktu, keluarga jiwa Anda selalu memberikan pelajaran dalam jiwa Anda.

6. Mereka Datang Saat Anda Membutuhkan Bantuan

Bantuan dalam hal ini tidak selalu diartikan dengan diri Anda berada dalam kondisi yang sulit. Hubungan Anda dengan keluarga jiwa Anda lebih dari sekedar interaksi fisik, namun lebih pada pengembangan diri Anda dalam aspek mental dan spiritual. Anda bisa saja saat itu merasa Anda tidak kesulitan, Anda tidak memiliki permasalahan dalam diri Anda, namun ternyata Anda hanya belum menyadari bahwa selama ini Anda menyimpan banyak masalah, bahkan luka yang perlu Anda bersihkan, disaat inilah keluarga jiwa Anda datang. 

Keluarga jiwa Anda bisa juga hadir untuk membantu Anda mengeluarkan potensi terbaik Anda. Mereka bisa datang dengan memberi sebuah trigger yang kadang bermakna untuk menuntaskan masalah dalam diri Anda, atau sebuah trigger yang membantu Anda menjadi versi terbaik dari diri Anda!

Jadi, itulah 6 tanda bila  Anda bertemu dengan keluarga jiwa  Anda, sudah tahu siapa saja orangnya? 


Belajar Ikhlas, Melepaskan, dan Meyakini Rencana Tuhan

Belajar Ikhlas, Melepaskan, dan Meyakini Rencana Tuhan

Ditulis oleh : Fatihatun Puti Sabrina

Belajar untuk ikhlas dan menerima tentu bukan  hal yang mudah. Bila saya boleh berkata jujur, ikhlas merupakan pelajaran terberat yang saya terima dalam hidup saya sampai detik ini (dibanding pelajaran mengenai self love, betrayal, dan self awareness yang saya alami beberapa waktu lalu). Mengatakan kita ikhlas sama dengan kita menyadari penuh bahwa kita telah melepas sesuatu—hal, benda, seseorang—dari hidup kita. Ikhlas bukan sekedar melupakan, namun ikhlas berarti merelakan dengan sepenuh hati bahwa apa yang mungkin selama ini kita genggam erat sudah seharusnya kita lepaskan, sekalipun di awal hati masih berat untuk merelakan.


Belajar Ikhlas dan Melepaskan
Belajar Ikhlas dan Melepaskan 


Memahami makna let go dan detach dalam Melepaskan

Saya sempat keliru untuk memahami antara “Let go” dan “detach” beberapa waktu lalu. Saya berpikir bahwa saya telah “Let go”, namun ternyata saya masih masuk pada fase “detach”.

Let go sama artinya dengan melepaskan seluruhnya—dari sisi emosi, pikiran, dan tindakan—sesuatu yang kita rasa sudah tidak bisa lagi dipertahankan dalam hidup kita. Seperti menggunting sebuah benang yang menjadi penghubung.  Sedangkan “detach” lebih mengarah pada ‘pengalihan’, kita menyadari bahwa kita masih menginginkan hal tersebut dalam hidup kita, hati kita masih bertahan pada apa yang kita inginkan, namun kita mengarahkan emosi dan pemikiran kita pada hal lain (bisa pada kegiatan, hobby baru, atau berfokus pada diri sendiri). 

Mudahnya detach lebih mengarah pada pengalihan “energi”, like you realized that you still bound to something, but you choose to not give your energy into that. Ingat energi manusia juga berasal dari emosi dan pemikiran, bukan hanya aksi atau tindakan.

Cara berlajar Ikhlas dan Melepaskan

Ketika saya berniat untuk melepas sesuatu dan menerima dengan ikhlas, penghalang terbesar yang sering menjadi penghambat justru ego manusia sendiri. Ego saya—yang muncul membawa rasa takut dan khawatir—membuat saya selalu bertanya-tanya seperti “Bagaimana bila keputusanmu untuk melepas adalah keputusan yang salah?”, atau  “Bagaimana bila sebenarnya kamu hanya membutuhkan sedikit waktu untuk membuat semua bekerja sebagaimana mestinya?”, dan banyak pertanyaan lain yang membuat hati ini mulai goyah untuk terus berjalan.

Namun dari sana saya memahami bahwa ego manusia yang muncul membawa rasa takut dan khawatir hanya merekam dari pengalaman—baik yang pernah kita alami sendiri, atau pengalaman yang kita lihat terjadi pada orang lain dan tidak ingin terjadi di hidup kita. Ego kita sebenarnya hanya ingin kita benar-benar memahami emosi yang kita rasakan, hal ini manusiawi, tetapi saya sadar bahwa keputusan tetap ada di tangan saya sendiri. Tentu banyak waktu yang saya habiskan seorang diri hingga saya benar-benar dapat mengenali kata hati saya yang sebenarnya. 

The best way if you want to know the difference between your ego and your intuitions, to know about your true desire, is to deal and have a deep talk with your own self. Alone.

Saya banyak menghabiskan waktu seorang diri, saya menyadari bahwa kadang jawaban yang selama ini saya cari terdapat di dalam diri saya sendiri.  Untuk ikhlas dan melepaskan, saya mulai dengan berdamai dengan ego saya dan menerima semua emosi yang saya rasakan. Saya belajar untuk berhenti bertanya 'mengapa' dan 'bagaimana', dan menerimanya sebagai fase yang perlu saya lewati dalam hidup ini. 

Diperlukan keterbukaan dengan diri sendiri untuk membuat proses ini lebih cepat berakhir. Bila “urusan” dengan diri sendiri sudah berhasil di atasi, selanjutnya kita hanya perlu “Keep a faith”, yakin bahwa semesta akan bekerja sebagaimana mestinya. 

Saya belajar untuk percaya bahwa saya berada di mana saya seharusnya berdiri sekarang, saya yakin bahwa saya ada pada posisi yang sudah semestinya. im right where I belong. Sekalipun mungkin keputusan saya pada akhirnya terasa salah, saya yakin proses tersebut tetap sesuatu yang perlu saya lalui. Pemahaman ini berusaha saya tanamkan untuk membuat hati ini lebih kuat, dan diri ini tetap waras.

 

“Tapi kan tidak semudah itu! Ikhlas tidak mungkin mudah, ada aja yang rasanya menahan!”

 

Iya, siapa yang bilang mudah?

 

Maka dari itu, tak heran hadiahnya juga besar. 

Ikhlas sangat sulit, melepaskan orang, harapan, prinsip, yang selama ini selalu kita genggam tidaklah mudah. Bahkan sekalipun saya telah berhadapan dalam situasi ini beberapa kali,  setelah berhasil melewatinya dan melihat apa yang saya dapatkan setelah saya “let go and release”—saya akan melewati fase dari awal, ketika saya berhadapan dengan kasus lain yang kembali menuntut saya untuk ikhlas. Saya harus kembali berdamai dengan ego saya, dan sekalipun sudah berdamai, akan ada masanya hati kembali goyah—jadi ini bukan proses yang lurus, it’s a life.   

Tidak sekali saya bertanya-tanya pada diri saya “Saya tahu saya seharusnya melepas,  dan saya juga tahu Tuhan menyiapkan sesuatu yang baik setelah ini, tetapi mengapa setiap saya dihadapkan pada kondisi baru yang menuntut saya untuk ikhlas, rasanya tetap berat?”

Dari sana, mungkin kehidupan ingin kita belajar untuk menggenggam dan melepas, untuk mengajarkan manusia cinta kasih tanpa perlu memiliki, untuk membuat kita mengerti bahwa kita hanya bagian kecil dari semesta yang luas, ada saatnya kita hanya perlu melepaskan dan mempercayakannya semuanya pada rencana Tuhan.

Dan semua merupakan proses, Keep a faith yang sesungguhnya bukan hanya mengatakan percaya dan yakin ketika Anda masih tahu apa yang mungkin dapat terjadi esok, keep a faith bukan sekedar meyakini ketika Anda masih memiliki pilihan lain, bukan sekedar yakin ketika Anda masih bisa melihat bahwa semua hal bergerak di sekitar Anda. Bukan.

Tapi keep a faith yang sebenarnya—dari apa yang saya pahami dari pengalaman saya , adalah—menerima dan percaya sepenuhnya pada jalan dan takdir Tuhan sekalipun kita tak tahu bagaimana semua akan berakhir, sekalipun semua yang berada di sekitar Anda terasa berhenti berputar, sekalipun Anda tak tahu lagi apa yang bisa anda lakukan (rasanya seperti tak ada pilihan yang tersisa dan apa yang Anda lakukan tak menghasilkan progress apapun). It’s like the real unknown.

Dalam kondisi tersebut, makna “keep a faith lebih bisa Anda rasakan.

Yang perlu dimengerti dari ikhlas dan melepaskan

Untuk saat ini  belajar memahami dan terhubung dengan diri sendiri, serta yakin pada jalan Tuhan adalah  hal yang bisa saya lakukan ketika saya harus belajar ikhlas dan melepaskan. Meyakini bahwa banyak hal yang bekerja di balik layar, sekalipun tak bisa saya lihat sekarang. Saya hanya perlu memahami apa yang bisa saya kendalikan dan tidak, serta mengerti apa yang sebenarnya diri saya inginkan. Saya berpendapat, hidup tak akan pernah adil bila kita hanya melihat dari sudut pandang kita sebagai manusia, penglihatan dan pengetahuan kita terbatas, namun rencana dan jalan Tuhan sangat luas. Jadi keep going untuk teman-teman yang sedang belajar untuk ikhlas dan melepaskan, ga akan ada yang mengatakan semua ini mudah, but its worth to try.


Listen to your heart, release, and keep a faith.


That’s all I could give to you right now. Karena saya pun masih dalam proses pembelajaran dan masih perlu banyak refleksi dan perbaikan. Jika ada tips dan masukan lain yang ingin kalian berikan, kindly use comment section below.



Terimakasih telah membaca,

With Love

Fatihatun Puti Sabrina


Ceritaku : Melewati Spiritual Awakening Pertamaku

Postingan ini lebih ke sharing pengalaman, karena aku yakin banyak orang yang mengalami hal serupa dan aku harap ada pelajaran yang dapat kita petik dari semua ini. 

 

Secara pengertian, spiritual awakening atau biasa juga disebut sebagai Pencerahan adalah "pemahaman penuh dari suatu situasi". Istilah ini biasanya digunakan untuk menunjukkan Zaman Pencerahan (wikipedia, 2020)

 

 

Spritual Awakening
Spritual Awakening

Kebangkitan spiritualku terjadi pada bulan mei 2020. Semua berawal saat keadaan memaksaku untuk memiliki jarak dengan teman-teman bahkan keluargaku. Posisi itu membuat aku benar-benar sendiri, aku disconnect dari dunia luar dan seluruh perhatianku hanya terfokus pada diriku.

Saat itu aku dipaksa untuk membuka mataku. Ibarat kalian tertidur dan dibangunkan, kalian dipaksa melihat semuanya dengan jelas. Semua rekaan hidup kalian seperti diperlihatkan kembali. Kalian diberikan cermin untuk melihat siapa diri kalian dan apa saja kesalahan yang kalian lakukan selama ini. Hati kalian dibuka, hingga kalian dapat mengetahui luka jiwa apa yang selama ini kalian sembunyikan. Kalian juga diberikan lensa yang lebih jernih, untuk melihat seperti apa kehidupan dan siapa sebenarnya orang-orang di sekitar kalian.

Tentu hal ini tidak berjalan dengan baik. Mulanya, aku merasa kacau. Aku menangis hampir setiap hari. Aku mengalami mimpi berulang kali, kadang berupa kata-kata yang kuingat hingga aku bangun, kadang hanya berupa pertemuan, kadang pula hanya di hadapkan pada keadaan yang membuatku mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan orang yang hadir dalam mimpiku. Aku perlu membatasi interaksiku dengan orang lain karena aku terlalu mudah menyerap dan merasakan emosi mereka.

Posisinya seperti : kalian harus melihat apa yang selama ini tidak ingin kalian lihat. kalian harus melepaskan apa yang pada kenyatannya tidak cukup baik lagi untuk kalian—sesuatu yang menahan kalian untuk terus berkembang. Hal itu diperburuk karena aku masih berusaha untuk memperbaiki keadaan, aku masih menyangkal. Egoku masih terlalu besar untuk memperjuangkan apa yang aku inginkan, bukan mengerti apa yang sebenarnya aku butuhkan. 

 

Dan saat berada pada keadaan tersebut, satu-satunya hal terbaik yang dapat kalian lakukan hanya mendekat kepada Tuhan. Perbaiki hubunganmu dengan-Nya, curahkan semua yang kalian rasakan, dan percayakan semua kepada Tuhan. Sekalipun kalian tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, kalian merasa tidak nyaman,  tapi percayalah itu jalan terbaik yang dapat kalian lakukan.

 

Saat itu, aku berhenti untuk berusaha mengendalikan keadaan. Aku membiarkan semua mengalir dan mengikuti alur permainan semesta. Apa yang akan hancur, aku biarkan hancur. Apa yang harus menghilang, akan kubiarkan menghilang. Dua-tiga bulan, masa itu benar-benar gelap. Aku hanya mencoba untuk terus mengenali diriku dan berdamai dengan keadaan.


Perlahan aku mengerti, bahwa pengenalan dan pencarian ke dalam diri sendiri  jauh lebih penting dibanding pencarian ke luar. Pengembangan jiwa, lebih berharga dibanding kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan aku sadar, tujuan hidup bukan perihal apa yang ingin aku raih dan aku dapatkan, jauh dari itu, tujuan hidup juga menyangkut apa yang dapat aku berikan, mengapa aku berada di sini, dan apa alasan Tuhan memberikan semua ini dalam hidupku


Dan akhirnya, fase tersebut berakhir. Dimulai dengan pengendalian emosiku yang lebih stabil, aku mulai mengerti setiap alasan dari kejadian yang harus terjadi dalam hidupku. Aku mengerti mengapa aku harus di hadapkan pada kondisi yang sulit. Jalan hidupku, apa yang terjadi, semuanya benar-benar seperti rantai yang terhubung satu sama lain.

Apa yang kualami, adalah apa yang harus kulewati, untuk pengembangan diriku menjadi aku yang lebih baik dari aku di masa lalu.

Teruntuk kalian yang tengah mengalami hal seperti ini, aku ingin menyampaikan, bahwa semua akan terlihat keruh di awal, semua mungkin tidak terlihat masuk akal, dan hal itu  wajar, sangat normal.  

Semua luka dan kekeliruan kalian akan terbuka satu demi satu. Kalian dapat melihat siapa sebenarnya orang di sekitar kalian. Termasuk jika kalian mencoba berbohong pada diri sendiri, itu tak akan berhasil, karena cermin besar memberikan refleksi terang-terangan tentang apa yang selama ini tidak bisa kalian lihat. 

Mendekatlah kepada Tuhan, terima semua yang terjadi dan terbukalah pada diri kalian. Setelahnya, percayakan semuanya kepada garis takdir. Apa yang akan kalian dapatkan setelahnya, tak akan dapat dibayar dengan apapun. Semua sangat berharga.

Menurut pendapatku pribadi, kesadaran dan pengenalan diri tidak ditentukan oleh umur seseorang. Sangat memungkinkan, bila seorang manusia justru sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengalami pengembangan jiwa selama mereka hidup. Beruntunglah jika kalian melaluinya, selamat memasuki pola hidup yang baru dan selamat memandang kehidupan dengan lensa yang berbeda sekarang.

 

 

Sampai Jumpa! :)