Solitude, Menemukan Kekuatan Dalam Kesendirian

Solitude, Menemukan Kekuatan Dalam Kesendirian

Ditulis oleh : Fatihatun Puti Sabrina

Solitude


Dr. Richard Carlson, seorang penulis sekaligus psychotherapist menjelaskan bagaimana waktu dengan diri sendiri memberikan impact yang penting dalam hidup seseorang. Dalam kondisi sibuk sekalipun, beliau selalu menyempatkan 10-15 menit paginya seorang diri. Dalam buku saya, the art of self-renewal, saya pernah menulis perihal bagaimana kesendirian mengajarkan manusia banyak hal. Kesendirian membantu kita memahami siapa diri kita yang sebenarnya.


Memandang Kesendirian Dari Persepsi Yang Lebih Positif 

Satu hal yang menjadi momok menakutkan dari kesendirian adalah munculnya rasa kesepian. Deep down, semua orang memiliki rasa takut untuk berakhir seorang diri, khususnya pada state di mana kita terpisah baik secara emotional ataupun physical dengan orang di sekitar kita.

Faktanya, Anda bisa saja dikelilingi oleh banyak orang namun merasa kesepian. Di sisi lain Anda bisa saja seorang diri namun hidup Anda terasa lengkap, Anda tidak merasa terbebani dengan kesendirian Anda. 

Rasa sepi yang paling menyedihkan adalah ketika kita merasa kesepian sekalipun berada di tengah keramaian, ini menjadi indikasi bahwa terdapat fragmentasi yang kita buat dengan orang di sekitar kita--yang bila digali lebih dalam, merupakan fragmen yang kita buat dengan diri kita sendiri, (bagian dari diri kita yang belum kita rangkul secara utuh). Hal ini membuat kita merasa bahwa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang menunggu untuk kita temukan. 

Sebagai contoh, ketika kita merasa kesepian di tengah keramaian, maka kita merasa bila kita tidak bisa terhubung dengan orang di sekitar kita, Tidak peduli seberapa banyak orang yang berbicara dengan kita, ini hanya seperti sebuah distraksi, it will never make you feel complete, because the first connection you have to built is the connection within yourself.

Selain itu, kita harus menerima bahwa tidak semua orang yang datang ke hidup kita akan terus tinggal. Adanya pemahaman bahwa setiap orang dapat berubah, akan memudahkan kita untuk menerima bahwa ada orang yang harus kita lepas, dan ada orang yang akan bertahan di sisi kita. Bahkan ketika saya mengatakan beberapa orang merupakan my soul tribe, bukan berarti mereka akan ada di hidup saya selamanya. Bila kita sudah tidak berjalan pada visi dan misi yang sama, maka lebih baik bila kita melangkah pada jalan yang berbeda. 

Ketika kita memahami setiap pertemuan merupakan pelajaran, kita akan mengerti bahwa ada saatnya kita bertemu dengan orang lain, belajar satu sama lain, dan bila pelajaran tersebut sudah dipenuhi, maka pertemuan telah berakhir. Lalu kita akan bertemu orang lain, dan siklus yang sama akan terulang kembali. People change, and that's okay.
 

Menemukan Kekuatan Dalam Kesendirian

Self esteem dan kepercayaan diri saya terbentuk ketika saya menyadari bahwa, satu-satunya orang yang bertanggung jawab dan paling capable dalam menangani masalah saya adalah diri saya sendiri. Dulu, saya cenderung membuat limitasi mengenai apa yang bisa, dan tidak bisa saya lakukan. Saya meyakini bahwa ketika seseorang mengatakan tindakan tersebut sulit, maka hal tersebut memang sulit. Saya berpikir bahwa hanya orang-orang yang saya anggap berkompeten, yang dapat menyelesaikan semua masalah yang saya hadapi saya, dan hal tersebut jelas keliru.  

Hal yang selama ini menjadi ketakutan terbesar saya, semua hal yang saya rasa mustahil untuk saya gapai, ternyata berhasil saya lalui, dan semua tidak seburuk apa yang saya bayangkan. 

Terkadang kita hanya perlu memberikan kepercayaan lebih besar untuk diri kita sendiri. Kita sering kali baru menyadari seberapa besar kekuatan yang kita milikki disaat kita tidak memiliki siapapun untuk bergantung. Ini juga yang menyebabkan keinginan  untuk selalu merasa aman bisa menjadi boomerang terbesar yang menahan kita untuk berkembang. 


Personal Traits, Kesendirian Sebagai Pilihan.


Bila diawal kesendirian saya merasa kosong dan kesepian, kini saya merasa dari kesendirian saya bisa terhubung dengan diri saya. Being present. Kesendirian adalah waktu dan tempat terbaik untuk ketenangan jiwa saya. Khususnya bagi saya yang sensitive, waktu untuk diri sendiri merupakan self care yang bisa saya lakukan. 

Kecenderungan untuk menarik diri dan menghabiskan waktu saya seorang diri selalu menjadi hal yang saya lakukan ketika saya menghadapi banyak masalah. Saya mengerti, ini merupakan kebiasaan yang saya bawa sejak kecil. Setiap saya merasa overwheelming, insecureatau mengalami banyak problem dalam hidup, saya memilih untuk tidak menemui siapapun, tidak juga dengan meminta bantuan.  Yang pertama, ada kecenderungan dari saya untuk mengatasi masalah saya sendiri, dan yang kedua saya tidak bisa mempercayai semua orang--sayangnya kadang situasi menyebabkan saya kesulitan terhubung  dengan orang-orang yang saya percayai. 

Saya tidak tahu dapat mengatakan hal ini sebagai traits buruk atau tidak. Disatu sisi, ini mengajarkan saya kemandirian, juga membangun kebiasaan untuk tidak lari kepada siapapun sebelum bercerita kepada Tuhan, namun di sisi lain--terutama ketika emotional state saya sangat buruk, saya seperti membuat hidup saya sendiri berada di dalam neraka. Mengerti kapan waktu yang tepat untuk bercerita dan meminta pertolongan adalah hal yang sedang saya pelajari sekarang. 


Untuk Anda Yang Merasa Selalu Sendiri Dalam Menghadapi Kesulitan.

Dulu, kesendirian hadir bukan seperti pilihan, saya menghabiskan banyak waktu untuk berpikir mengapa orang datang dan pergi dalam hidup saya, mengapa setiap ada proses pembenahan dan masa sulit dalam hidup saya, takdir seolah menempatkan saya seorang diri. Bukan karena semua orang di sekitar saya tidak baik dan pergi (beberapa ya, mereka meninggalkan saya), namun sering kali, orang terdekat yang saya percaya  tak bisa berada di samping saya karena beberapa kondisi. 

Awalnya, kondisi ini membuat saya merasa seperti victim, saya marah kepada hidup. Saya berusaha melakukan apapun yang saya bisa untuk orang di sekitar saya, namun ketika saya butuh bantuan, mengapa semua orang seolah ditarik menjauh dari hidup saya? Ketika saya terpuruk, kemana saya harus berlari? No matter how strong you are as a person, at the end of the day, you do need someone to rely on, someone who can comfort you

Saya mencoba bercerita pada salah satu orang yang saya percayai, mungkin menjadi satu-satunya orang yang mengetahui banyak hal dalam hidup saya. Saya berkeluh kesah--khususnya mengenai semua pattern yang terjadi di hidup saya, ketakutan terbesar saya, juga pertanyaan mengenai "mengapa ketika saya dalam kondisi sulit, semua orang yang ingin saya temui seolah ditarik menjauh dari hidup saya?". 

Dalam kondisi emosional yang kacau dan persepsi yang sempit, saya seperti berpikir bahwa Tuhan terlalu jahat karena tidak membeirkan satu orangpun di sisi saya saat saya tengah terpuruk, dan akhirnya saya belajar hal lain, bahwa semua terjadi karena Tuhan yakin bahwa Anda mampu, Anda mampu menghadapi semuanya, dan Tuhan ingin kita berkeluh kesah kepada-Nya, sebelum berkeluh kesah kepada makhluk lain. 

"And just as the Phoenix rose from the ashes, she too will rise. Returning from the flames, clothed in nothing but her strength, more beautiful than ever before."

- Shannen Heartz.

Tanpa berniat menggurui, saya tidak memaksa Anda untuk selalu kuat dan mengatasi masalah Anda sendiri, namun berkeluh kesah kepada Tuhan sebelum menyampaikannya ke orang lain patut kita lakukan mulai dari sekarang. Dan bila Anda merasa kewalahan menghadapi masalah Anda seorang diri, pahami limitasi Anda, dan minta bantuan pada orang-orang yang bisa Anda percayai. 


Yang Perlu Kita Pahami Dari Kesendirian

Menyadari seberapa besar kekuatan diri, memberikan rasa percaya pada diri sendiri, sekaligus membangun relasi terkuat yang menjadi dasar dari semua koneksi yang hadir dalam hidup kita merupakan semua hal yang saya pelajari dalam kesendirian.

Entah Anda lebih senang untuk menghabiskan waktu dengan diri sendiri, atau Anda seseorang yang lebih suka menyendiri, Anda harus menyadari pada state mana dan emosi apa yang kita rasakan dalam kesendirian, Anda bisa mengahabiskan waktu dengan banyak orang, membangun koneksi dengan orang lain, namun pastikan bahwa hubungan Anda dengan diri sendiri--yang merupakan fondasi dasar dari semua koneksi dalam hidup kita--sudah Anda bangun dengan baik.

Jika Anda seseorang yang sensitif seperti saya, Anda bisa memanfaatkan 'me time' sebagai self care untuk diri Anda. 10 hingga 15 menit yang Anda habiskan seorang diri bisa membantu Anda untuk lebih aware dengan apa yang Anda rasakan.

And if you are feeling lonely, or empty inside of you, recognize that it is a sign from yourself to find a missing piece from your soul, to collect all the fragments you have lost. To make  you feel complete, and this is the meaning of oneness.


Sekian yang bisa saya sampaikan dalam postingan kali ini, terima kasih telah mampir membaca 




Salam Hangat, 
Fatihatun Puti Sabrina

Sudut Pandang : Tentang Kasih Sayang Sesama Makhluk Hidup


Sudut Pandang : Tentang Kasih Sayang Sesama Makhluk Hidup 

Ditulis Oleh : Fatihatun Puti Sabrina 

"The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated." (Mahadma Gandhi)

Mahadma Gandhi, seorang politisi, aktivis, sekaligus penulis, menyatakan bahwa kualitas moral suatu bangsa dapat dinilai dari bagaimana hewan-hewan di sana diperlakukan. Semua hewan merasakan apa yang manusia rasakan, mereka merasa sedih, sakit, takut, frustasi, sama seperti kita manusia. Akan tetapi, banyak di antara kita yang masih menganggap 'justice' hanya berlaku untuk sesama manusia, padahal bila kita benar-benar menggunakan hati kita untuk berempati, kita bisa melihat, merasakan, dan mendengar, bahwa mereka sama seperti, mereka layak diperlakukan dengan baik. 

Pembahasan kali ini merupakan topik yang sejak lama ingin saya tuliskan. Perihal kasih sayang ke semua makhluk hidup, khususnya terhadap hewan. 

Cinta Kasih Sesama Makhluk Hidup


1. Penanaman Persepsi Yang Salah Tentang Hewan 

Persepsi dan kebiasaan seseorang tidak terbentuk dengan cepat, bagaimana kita berpikir, bersikap, dan bereaksi saat ini memiliki keterkaitan dengan semua kejadian yang kita alami sejak kita masih kecil. Ketika saya masih kecil, saya ingat bagaimana ibu saya sangat menyayangi seekor kucing, saya ingat bagaimana ia memperhatikan dan menganggap hewan tersebut bagian dari keluarga kami, bukan sekedar peliharaan yang hanya dimainkan ketika kita jenuh, diikat di depan rumah sepanjang hari, dan dibuang ketika sudah sakit. 

Dan seperti yang kita ketahui--emosi seorang Ibu cenderung menurun kepada anaknya--saya mengerti apa yang ibu saya rasakan, saya belajar dari caranya bersikap dan memperlakukan hewan. Sekalipun ibu saya jarang mengajarkan secara verbal, namun ia memberikan contoh, dan membiarkan saya belajar dengan sendirinya. 

Saat ini, saya sering menemukan penanaman prinsip yang salah mengenai hewan sebagai peliharaan. Memelihara seekor hewan, membuat seseorang bersikap seolah kita yang memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana hidup hewan tersebut berakhir. Ini seperti sebuah konsep kepemilikkan benda, mengabaikan fakta bahwa seekor hewan adalah makhluk hidup. 

Asal Anak Senang, Peliharaan Mati Bukan Masalah.

Pernahkah Anda melihat seseorang membelikan anaknya hewan tanpa mengerti bagaimana ia harus merawatnya, dan membiarkan seorang anak kecil memperlakukan hewan tersebut sesuka hatinya?

"Asal anak senang, hewan mati bukan masalah"

"Asal anak saya tidak menangis, kalau ikannya mati saya bisa membeli lagi"

"Asal anak saya tidak rewel, anak kucingnya cacat tidak apa-apa"

Ini yang sering terjadi sekarang, dengan alasan kebahagiaan seorang anak, kita mengabaikan bagaimana makhluk hidup seharusnya diperlakukan. 

Saya mengerti bukan hal yang mudah membuat seorang anak tidak rewel, anak kecil sering mengalami tantrum, dan membuatnya ceria sepanjang waktu adalah hal yang sulit--bahkan mustahil. Akan tetapi, kita juga perlu menyadari bahwa tugas kita sebagai orang dewasa juga mendidik. Kita bukan hanya bertanggung jawab membuat seorang anak merasa bahagia, kita juga bertanggung jawab untuk mengajari apa yang benar dan apa yang salah. Apa yang baik untuk dilakukan, dan apa yang seharusnya ia hindari, 

Bila kita membiarkan seorang anak melakukan hal yang kasar kepada makhluk hidup lain, bila kita tidak mengajarkan bagaimana cara mengasihi dengan benar, dan bila kita membiarkan seorang  anak  berpikir bahwa nyawa makhluk hidup lain sama harganya seperti barang yang bisa ia buang ketika ia merasa bosan, anak seperti apa yang kita besarkan?

Mengajarkan Kebahagaian Dengan Mengasihi 

Here's the truth. Kita bisa membuat seorang anak merasa bahagia dengan mengajarkan mereka bagaimana cara mengasihi dengan benar. Kebahagiaan yang timbul dari melakukan/memberi sesuatu untuk makhluk hidup lain (giving), akan terasa jauh lebih meaningful dibanding kebahagiaan yang kita dapatkan dari menerima atau mengambil (take it). 

Tentu dibutuhkan kesabaran dan kesediaan bagi kita selaku orang dewasa untuk mengajarkan hal ini pada anak-anak. Akan tetapi, menjadikan keterbatasan waktu dan rasa enggan mengeluarkan effort lebih untuk mengajari anak sebagai alasan, tentu bukan pilihan yang bijak. 

2. Gunakan Empati, Mulai Dari Diri Sendiri

Kita tidak harus menjadi seorang aktivis, tidak perlu menunggu menjadi seseorang yang memiliki kapabilitas besar, kita hanya perlu menjadi 'manusia' untuk melakukannya. Latih rasa empati kita bukan hanya pada sesama manusia, namun juga semua makhluk hidup di sekitar kita. Sekalipun hewan tidak berpikir dan berbicara seperti manusia, namun mereka memiliki emosi, mereka bisa merasakan rasa sakit, mereka bisa menangis bila Anda membuang mereka, dan mereka bisa ketakutan bila Anda memukul mereka. 

Here's the clue : Bila kita tidak ingin diperlakukan seperti itu, maka jangan lakukan hal tersebut kepada siapapun. Baik sesama manusia, atau makhluk hidup lain. Sesuatu yang tidak menyenangkan, tetap tidak menyenangkan, sekalipun yang menerima terlihat baik-baik saja. Terapkan ini ke semua makhluk. 

Bila tidak ingin memberi, jangan melukai. 

Berhenti mengusir hewan dengan kasar. Ketahuilah, tidak semua hewan terbiasa dengan manusia. Bila hewan-hewan yang takut akan kehadiran manusia memberanikan dirinya untuk meminta makanan kepada kita, bukankah mereka terdesak karena kelaparan? Bagaimana bila kita adalah harapan terakhir bagi mereka?

Lagi pula, apakah dengan memberikan sedikit makanan yang kita punya akan membuat kita jatuh miskin dan kehilangan banyak hal? Tidak bukan?

Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk berubah, namun kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Biarkan kebaikan dimulai dari diri Anda, lalu lihat bagaimana tindakan yang Anda lakukan meng-inspirasi orang lain.

3. Berhenti Memandang Normal Hal Yang Sudah Tidak Relevan Untuk Diterapkan

Saya sering melihat banyak orang baik di sekitar saya yang akhirnya berhenti berbuat kebaikan karena takanan yang mereka terima dari luar. Memang tidak mudah memulai sesuatu yang jarang bahkan tidak pernah dilakukan orang lain. Anda seperti melawan arus, dan ini memang berat. Kebanyakan orang cenderung memandang skeptis sesuatu yang baru bagi mereka, dan menerima hal yang sudah menjadi kebiasaan (dan dilakukan kebanyakan orang) sekalipun hal tersebut sudah tidak relevan, bahkan tidak baik lagi untuk dilakukan. 

Beberapa kali, saya mendengar orang-orang ditegur ketika melakukan street feeding, niat baik yang mereka lakukan dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu bagi segelintir orang. Dalam case lain, komunitas dan wadah perlindungan hewan masih dianggap sebagai tindakan yang konyol, bila mereka kurang kuat dan memiliki pendukung yang banyak, mereka bisa dibungkam dan dibubarkan. Saya pun merasa tak nyaman ketika orang-orang menatap saya aneh ketika saya memberi makan hewan yang saya temui di jalan. If you're doing this, you know how it feels when someone laughs at your action because they think it's an idiot or stupid thing for them. 

Mengubah suatu adat, kebiasaan, jelas memerlukan waktu dan proses yang panjang, namun bila kita terus menunda, bagaimana kita bisa membuat perubahan?

4. ADOPT, DON'T SHOP! 

Saya tidak bisa melarang Anda untuk membeli hewan peliharaan yang Anda sukai, namun sebelum membeli, lihatlah di sekeliling Anda. Banyak hewan yang memerlukan rumah untuk berlindung, bila Anda mengatakan bahwa hewan-hewan di jalanan terlihat buruk dan tidak sebagus hewan yang Anda beli di petshop, Anda bisa merawat mereka, hewan jalanan sekalipun akan terlihat lucu dan menarik ketika Anda bisa merawatnya dengan baik. Mereka semua sama, semua tergantung bagaimana Anda merawat dan kesediaan Anda membuka rumah Anda untuk mereka, 

Akan tetapi, bila Anda berniat membeli peliharaan baru (karena memang beberapa ras tidak bisa didapatkan dengan mudah), maka semua menjadi hak Anda. Satu hal yang perlu Anda ingat, bahwa hewan yang Anda beli menjadi tanggung jawab Anda. Perlakukan mereka dengan baik selayaknya makhluk hidup, bukan seperti barang. Bila Anda membeli hanya karena mata Anda menyukainya, pastikan jangan sampai Anda membuang mereka ketika mereka tua, sakit, dan tidak lagi terlihat menarik. you are a monster if you do this.


Terima kasih telah mampir membaca!

Salam Hangat,  

Fatihatun Puti Sabrina 

NEW BOOK LAUNCHING : The Art of Self-Renewal

NEW BOOK LAUNCHING : The Art of Self-Renewal 

Ditulis Oleh : Fatihatun Puti Sabrina

The Art of -Self Renewal merupakan buku self development yang terbit pada cetakan pertama  di bulan Mei 2022 mendatang.



The Art of Self Renewal merupakan buku yang membahas mengenai proses upgrade diri. Dimulai dari perubahan pola pikir (pembaruan mindset), pengenalan dan refleksi diri (pembaruan dari dalam diri), juga perihal membangun dan memperbaiki relasi kita dengan orang di sekitar.

Pentingnya penanaman mindset dijabarkan penulis pada bagian pembuka mengingat pola pikir merupakai kunci utama dalam memulai semuanya, pola pikir kita—yang belum tentu terbukti kebenarannya—dapat mempengaruhi bagaimana kita bersikap, dan secara tidak langsung akan berpengaruh pada bagaimana orang lain memperlakukan diri kita. 

Ketika pentingnya penanaman mindset telah diterima oleh pembaca, penulis akan mengajak pembaca untuk mebahas mengenai pencarian ke dalam diri sendiri—yang penulis sadari sebagai pencarian terbesar dalam hidup. Tahap refleksi ini dimulai dari pengenalan diri sendiri—yang merupakan korelasi antara diri kita di masa lampau, saat ini, dan ingin seperti apa kita terlihat di masa depan. 

Fase renewal yang dilakukan juga tidak berhenti sampai hubungan kita dengan diri sendiri, sebagai manusia yang terhubung satu sama lain—diperlukan pembaruan dari bagaimana kita berinteraksi dan terlibat dengan orang di sekitar kita. Berikut point yang dibahas dalam buku The Art of Self Renewal.

The Art of Self Renewal


Buku ini dapat dipesan melalui penerbit Ellunar dengan judul 'The Art of Self-Renewal', dan nama Pena Sabrina Puti.

Untuk Pemesanan Melalui Penerbit, klik pada tautan berikut : bit.ly/PO-TheArtOfSelfRenewal

Feel free to contact penulis jika memiliki pertanyaan, 081285538237-Puti Sabrina (Whatsapp Business

Tunggu apa lagi? Yuk, order buku ini sekarang!




Your Soul Tribe, 

Fatihatun Puti Sabrina

Mengenal Energi Feminin dan Maskulin : Apa itu Energi Feminin dan Maskulin?

Mengenal Energi Feminin dan Maskulin : Apa itu Energi Feminin dan Maskulin?

Ditulis oleh : Fatihatun Puti Sabrina

Bila kita berbicara mengenai energi Feminine dan masculine, maka kita tidak membahas perihal gender.  Gender merupakan bentuk ekspresi dari penampilan, perilaku, serta bahasa yang dibawa dalam budaya setempat dan mengarah pada penggolongan perempuan atau laki-laki (Schmidt Lena, 2019). Sedangkan feminin dan maskulin lebih mengarah pada energi yang menjadi prinsip dasar di dalam diri manusia, hal ini tentu akan disesuaikan dengan misi hidup dan role masing-masing individu dalam sebuah hubungan. 

Pada dasarnya, setiap orang tentu memiliki sisi maskulin dan feminin, keduanya ada di dalam diri manusia, namun akan terdapat satu sisi yang lebih mendominasi pada diri seseorang. 

Apa itu energi Feminin dan Maskulin?



Mengenal Energi Maskulin

Sekalipun maskulin dan feminin tidak didefinisikan oleh gender, namun kebanyakan maskulin akan berada pada tubuh laki-laki, begitupun dengan energi feminin yang biasanya memilih untuk masuk pada tubuh perempuan. Maskulin berorientasi pada goals, pencapaian, dan kesuksesan. Bila dalam pemikiran, maskulin cenderung logis, present, dan pembuat keputuasan yang baik. Sisi ini adalah sisi yang menyukai kebebasan.

Dalam rolenya, sisi maskuline biasanya bersifat membangun, dalam artian sebagai provider yang akan membantu feminin untuk berkembang. Oleh karena itu, proteksi yang diberikan dari sisi maskulin biasanya lebih mengarah pada perlindungan fisik, berbeda dengan cara feminin yang cenderung memberikan perlindungan dengan kasih sayang. 

Mengenal Energi Feminine

Bila sisi maskulin lebih berorientasi pada logika dalam melakukan setiap tindakan, feminin cenderung menggunakan hati dan intuisi dalam keseharian mereka. Namun bukan berarti para feminin tidak bisa berpikir logis, sisi feminin yang sehat mengerti bahwa emosi dan intuisi mereka merupakan anugrah yang Tuhan berikan, sesuatu yang seharusnya tidak lagi kita lihat sebagai kelemahan. 

Feminin adalah perihal emosi, cinta, dan kasih sayang. It's about going with the flow. Maka dari itu, energi feminin pada diri kita biasanya diekspresikan dalam bentuk kreatifitas. Ekspresif, kreatif, dan heart centered merupakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan energi feminin.



Peran Maskulin dan Feminin Dalam Sebuah Hubungan 

Kenyataan bahwa emosi masih dipandang sebagai kelemahan menjadikan banyak orang memilih untuk tidak menunjukkan sisi empati dalam diri mereka. Saya sangat gemas melihat bagaimana kita masih berpikir bahwa sikap acuh dan dingin dipandang sebagai suatu hal yang 'keren', seolah ada kebanggan sendiri ketika kita tidak memberikan reaksi atau menunjukkan respon dari apa yang terjadi di sekitar kita. Keacuhan ini dilakukan dengan dalih "Chill", padahal kita baru saja dikalahkan oleh ego sendiri. 

Menunjukkan bahwa Anda peduli, memberikan apresiasi dan effort, baru keren. Lagi pula, mengapa kita harus segan untuk terlihat mengeluarkan effort? 

Kondisi yang ada saat ini menyebabkan banyak orang memilih untuk menutupi sisi feminin dalam diri mereka. Membungkam sisi feminin dengan hanya mengandalkan pemikiran logis semata. Sayangnya, hal ini seperti boomerang yang akhirnya berbalik melukai diri kita sendiri. Kita harus menerima hadirnya dua sisi ini dalam diri kita, agar keseimbangan dalam diri kita bisa terjadi. 

Bila berbicara dalam sebuah hubungan, di mana relasi terjalin antara dua orang yang berbeda, maka akan ada pengambilan peran dari masing-masing individu. Satu individu cenderung maskulin dan individu lainnya akan mengambil peran sebagai feminin (terlepas dari gender, dan fakta bahwa kedua sisi ini tetap ada pada setiap individu). 

Ketika terjadi masalah yang menimbulkan perdebatan dalam sebuah hubungan, sisi maskulin yang belum sehat cenderung ingin mengakhiri pembicaraan. Sisi maskulin cenderung menghindar bila harus berhadapan dengan sesuatu yang membuatnya emosional. Dan sisi feminin yang belum sehat akan terus bergantung, feminin ingin terus merasakan energi tersebut sekalipun tidak meraskan kehadiran  dari maskulin. 

Jadi, sangat penting bagi maskulin untuk bisa lebih hadir dalam sebuah hubungan, agar dapat menjadi wadah bagi sisi feminin untuk mengekspresikan diri mereka dengan merasa bahwa mereka dicintai dan didengar.

Bila diibaratkan dengan sebuah sungai, feminin dapat dianalogikan sebagai air yang mengalir pada sungai tersebut, feminin bertugas untuk memberikan kasih perawatan, menjaga, dan memastikan bagaimana sungai tersebut tidak kering dan selalu dialiri oleh air, sedangkan maskulin bertugas menyediakan wadah sehingga air di sana dapat terus mengalir. 

Dari sini dapat kita lihat bahwa maskulin bertindak sebagai provider, ketika hal ini sudah terpenuhi, maka feminin akan mengalirkan semua hal yang dibutuhkan agar apa yang telah dibangun sebelumnya dapat terjaga dengan baik. Keseimbangan ini tidak hanya dibutuhkan dalam sebuah hubungan, namun juga sebagai energi general di muka  bumi. Bisakah kalian membayangkan bila semua orang hanya berfokus untuk membangun dan menciptakan hal baru tanpa berpikir bagaimana merawat, menyayangi, dan menjaga apa yang sudah ada tanpa rasa kasih?

Mengapa Keseimbangan Maskulin dan Feminin Penting?

Saya pernah melihat satu postingan yang secara garis besar mengatakan "Perempuan-perempuan, yang cenderung maskulin dan tomboi biasanya memilih bersikap seperti ini karena mereka tidak merasa aman untuk mengeluarkan sisi feminin mereka, sehingga mereka harus memberikan impresi yang kuat pada dunia luar"

Sekilas, hal ini terasa belum make senses untuk saya, hingga akhirnya saya menyadari bahwa sayapun--pernah menjadi perempuan yang ada dalam posisi tersebut. Dulu saya cenderung keras, bukan seseorang yang lembut, dan menolak untuk terlihat vulnerable dengan emosi yang saya rasakan. Energi feminin saya yang selama ini bermasalah terus bersembunyi karena merasa bahwa ia belum memiliki tempat yang aman untuk mengeluarkan sisi feminin dari diri saya, hingga dulu saya cenderung tampil sebagai perempuan yang tomboi. Saya dahulu benar-benar orang yang logis, saya benci terlihat sensitif (walau dalam hati saya, saya mengakui bahwa saya merasakan semua emosi yang ada, saya hanya ingkar)

Feminin saya yang terluka juga mengakibatkan sisi maskulin saya saat itu tak sehat. Karena berpikir saya harus bisa melindungi diri saya, maka maskulin dari diri saya cenderung ingin mendominasi dalam banyak hal. Maskulin yang tak sehat mulai mencoba mengontrol segala hal, berusaha untuk membuat semuanya terjadi sesuai dengan keinginan diri. 

Dari sini kita bisa melihat bahwa diperlukan keseimbangan dari sisi maskulin dan feminin dalam diri seseorang. Feminin yang sehat akan lebih ekspresif, kreatif, karena merasa bahwa mereka aman dan bisa menunjukkan apa yang mereka miliki pada semua orang. Feminin yang sehat juga lebih intuitive, mereka menyadari bahwa keterlibatan emosi dan kata hati bukan sesuatu yang dianggap sebagai kelemahan, namun sebagai bagian dalam diri kita--yang menjadikan kita manusia seutuhnya. 

Begitupun dengan sisi maskulin, alih-alih memiliki rasa percaya pada diri sendiri, berpegang teguh pada mimpi dan tujuan, sisi maskulin yang terluka bisa menunjukkan sikap controlling yang kuat, emotionally unavailable, overthinking, dan cenderung takut pada kegagalan. 

Hal Yang Perlu Kita Pahami Bersama

It's very normal, bila suatu saat Anda merasa kurangnya keseimbangan pada dua sisi dalam diri Anda. Akan ada masanya mungkin energi feminin Anda kurang balance, ada juga masanya kita merasa bila energi maskulin dalam diri kita yang mengalami permasalahan. Sekalipun saat ini kita sudah berhasil menjaga keseimbangan dua sisi ini, kita tetap memiliki peluang untuk kehilangan keseimbangan dalam diri kita. Jadi ini bukan hal yang kita selesaikan dalam sekali kerja. Kita perlu memahami bahwa kehidupan terus bergerak, perubahan akan terus terjadi, dan ketidakseimbangan dari sisi feminin dan maskulin pada manusia adalah hal yang lumrah terjadi. Kita perlu membangun awareness pada diri kita ketika merasa bahwa beberapa aspek dalam hidup kita terasa kurang balance, kemudian mengambil langkah sebagai upaya menyeimbangkan kedua sisi ini. 

Sekian yang dapat saya bahas pada postingan kali ini, selanjutnya kita akan membahas bagaimana caranya menyeimbangan energi feminin dan maskulin yang terluka. 

Sampai jumpa pada postingan selanjutnya!


With Love, 

Puti Sabrina


Terjemah dan Lirik Lagu "My Tears Richochet" - Taylor Swift

Terjemah dan Lirik Lagu "My Tears Ricochet" - Taylor Swift


Arti Lagu Taylor Swift My tears richochet


Bila Anda mencari lagu tersedih dari album Folklore, saya rasa my tears ricochet adalah pilihan yang tepat. My tears ricochet merupakan sebuah lagu yang masuk ke dalam album Folklore yang dirilis Taylor pada 2020 silam, lagu ini juga merupakan lagu pertama yang ditulis dalam album Folklore. Terinspirasi dari film love marriage, taylor mengatakan bahwa lagu ini menceritakan bagaimana seseorang yang kita percayai selama ini bisa menjadi orang yang sangat melukai kita, juga  perihal kenangan yang dilalui bersama dan justru berakhir menjadi sebuah penderitaan.

Berikut lirik dan terjemahan lagu My Tears Ricochet


We gather here, we line up, weepin' in a sunlit room
Kami berkumpul di sini, kami berbaris, menangis di ruangan yang diterangi matahari
And if I'm on fire, you'll be made of ashes, too
Dan jika aku terbakar, kamu akan menjadi abu juga
Even on my worst day, did I deserve, babe All the hell you gave me?
Sekalipun dalam hari terburukku, apakah aku pantas mendapatkan semua yang kau berikan kepadaku?
'Cause I loved you, I swear I loved you. 'Til my dying day
Karena aku mencintaimu, aku bersumpah aku mencintaimu, sampai hari kematianku. 

[Chorus I ] :
I didn't have it in myself to go with grace
Tak ada sedikitpun niat dalam diriku untuk pergi dengan anggun
And you're the hero flying around, saving face
Dan kamu merupakan seorang pahlawan yang berlalu lalang untuk menyelamatkan nama baikmu
And if I'm dead to you, why are you at the wake?
Dan bila aku telah mati untukmu, mengapa kau ada saat aku terbangun?
Cursing my name, wishing I stayed
Mengutuk namaku, berharap aku tetap tinggal
Look at how my tears ricochet
Lihatlah bagaimana air mataku melantun 

We gather stones, never knowing what they'll mean
Kita mengumpulkan bebatuan, tidak tahu untuk apa 
Some to throw, some to make a diamond ring
Beberapa kita hempaskan, beberapa kita buat menjadi cincin berlian
You know I didn't want to have to haunt you
Kau tahu aku tak pernah ingin menghantuimu
But what a ghostly scene
Namun sungguh adegan yang menakutkan 
You wear the same jewels that I gave you
Kau menggunakan hiasan yang sama, yang aku berikan padamu
As you bury me
Ketika kau menguburku

[Chorus II ] :
I didn't have it in myself to go with grace
Tak ada sedikitpun niat dalam diriku untuk pergi dengan anggun
'Cause when I'd fight, you used to tell me I was brave
Karena ketika aku berjuang, kamu selalu mengatakan aku pemberani
And if I'm dead to you, why are you at the wake?
Dan bila aku telah mati untukmu, mengapa kau ada saat aku terbangun?
Cursing my name, wishing I stayed
Mengutuk namaku, berharap aku tetap tinggal
Look at how my tears ricochet
Lihatlah bagaimana air mataku melantun 

[Bridge]
And I can go anywhere I want
Dan aku bisa pergi kemanapun aku mau
Anywhere I want, just not home
Kemanapun aku mau, namun tidak ke rumah
And you can aim for my heart, go for blood
Dan kau bisa membidik hatiku, membuatku terluka
But you would still miss me in your bones
Namun kau akan merindukanku jauh dalam dirimu
And I still talk to you (When I'm screaming at the sky)
Dan aku masih berbicara denganmu (ketika aku berteriak di langit)
And when you can't sleep at night (You hear my stolen lullabies)
Dan ketika kau tidak bisa terlelap di malam hari. (kau masih bisa mendengar lagu pengantar tidurku)

[Chorus III]
I didn't have it in myself to go with grace
Tak ada sedikitpun niat dalam diriku untuk pergi dengan anggun
And so the battleships will sink beneath the waves
Dan kapal perang kita akan tenggelam terbawa ombak
You had to kill me, but it killed you just the same
Kau merasa harus membunuhku, namun hal ini akan membunuhmu juga
Cursing my name, wishing I stayed
Mengutuk namaku, berharap aku tetap tinggal
You turned into your worst fears
Semua berbalik menjadi ketakutan terbesarmu
And you're tossing out blame, drunk on this pain
Dan kau mencoba menyalahkan, tersiksa dengan rasa sakit ini
Crossing out the good years
Menafikan tahun-tahun yang baik
And you cursing my name, wishing I stayed
Dan kau mengutuk namaku, berharap aku tetap tinggal
Look at how my tears ricochet
Lihatlah bagaimana air mataku melantun 

Personal Journey : Melepas Pola Lama Yang Terus Terulang

Personal Journey : Menglepas Pola Lama Yang Terus Terulang Dalam Hidup

Ditulis oleh : Fatihatun Puti Sabrina

Dalam hidup, kita tentu menghadapi banyak pelajaran untuk mendukung perkembangan diri kita—baik mental, emosional, maupun spiritual. Saat kita belum belajar dari masalah yang kita hadapi, sangat mungkin bila pelajaran yang sama kembali terjadi. Menyebabkan perulangan pola lama terus terulang, sekalipun kita dihadapkan dengan kondisi dan orang yang berbeda.

Kurang lebih dua tahun lalu—saya menyadari bila saya dihadapkan pada satu permasalahan dan belum bisa memahami makna sebenarnya dari apa yang terjadi, maka pola yang sama akan terulang kembali dalam hidup saya. Saya menghadapi masalah yang sama, rasa sakit yang sama, sekalipun dengan situasi dan orang yang berbeda.

Kesadaran yang sudah muncul dua tahun lalu nyatanya tidak membuat semua dapat saya terapkan dengan  mudah. Rasanya sulit untuk melihat sesuatu dengan lensa yang jernih ketika saya berdiri langsung di tengah masalah. Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari bahwa siklus ini telah terjadi cukup lama. Ini juga yang menyebabkan beberapa orang menyebutnya sebagai siklus karma hidup.

But before we dive deep into it, saya perlu menyampaikan bahwa siklus karma yang saya bahas di sini tidak merujuk pada orang tertentu. Siklus karma yang saya maksud lebih me-representasikan pelajaran pahit hidup  yang  harus saya mengerti. Mungkin saya tidak akan menceritakan semuanya secara eksplisit, saya hanya ingin bercerita melalui perjalanan saya. Saya harap teman-teman dapat memahami makna tersirat dari apa yang saya ceritakan sini.

 

Melepas Pola Lama Yang Terus Terulang


Menyadari Apa Yang Coba Hidup Ajarkan Kepada Kita

Semua berawal dari pertemuan saya dengan seseorang yang memberikan pembelajaran terbesar dalam hidup saya, tepatnya pada 2019 silam. Kehadirannya dalam hidup saya memberikan perkembangan jiwa yang luar biasa. Semua terjadi dengan sangat cepat, bahkan bila saya boleh berkata jujur, ia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan spiritual saya. Ia mengenalkan saya pada diri saya.

Physically, mungkin saya hanya bertemu dengannya sekitar 3-4 bulan, namun perkembangan diri saya terus berlangsung setelahnya. Rasanya menggelikan menyadari bahwa seseorang yang memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidup saya merupakan orang sama yang memberikan saya luka paling dalam. Ketika saya menunjuk semua hal yang saya benci dari dirinya, jemari saya seperti berbalik dan menunjuk diri sendiri, menyadari permasalahan yang selama ini tidak saya sadari.


 So it's not only about him, his behavior, or his fault.


But it's all about my deepest wound, my scars, my trauma


For example, saya tumbuh dengan pemikiran bahwa saya harus bisa melindungi diri saya sendiri, saya harus memastikan bahwa saya merasa aman, bahwa semua stabil. Dan ketika saya berhadapan dengan lelaki sepertinya, yang cenderung menghindar ketika koneksi semakin intens, orang yang sulit meng-ekspresikan apa yang ia rasakan—saya merasa sangat lelah secara emosional. Ini mungkin sederhana bagi banyak orang, namun hal ini menyakitkan untuk saya. Saya seperti tidak mengerti di mana saya berdiri sekarang.

Apa yang ingin saya tegaskan di sini  adalah, sangat mungkin bila rasa marah, sedih, kecewa, yang Anda rasakan dari perlakuan orang di sekitar Anda bukan hanya berasal dari apa yang terjadi saat ini. Banyak dari kita yang belum menyadari bahwa semua yang ada di sekeliling kita merupakan proyeksi dari apa yang terjadi dalam diri kita. Sangat memungkinkan bila akar dari masalah yang terjadi sebenarnya terletak dalam diri kita sendiri. Dari sana kita juga dapat melihat, bahwa ada korelasi dari luka lama yang secara tidak langsung mempengaruhi seperti apa 'ekspektasi' kita dalam menjalin sebuah hubungan.

Tetapi ada hal lain yang saya temukan, terlebih—terutama mengenai pola hubungan yang terus berulang, sekalipun pada orang lain yang memiliki karakter berbeda. 

Dari sana saya mulai berpikir, 


Why do I always attract an emotionally unavailable person into my life?


Why do I have to be a place where people can come and go? 


Why am I the only one who has to figure it out when everything is falling apart?


And why do I have to be the person who always tried to make it work?



Keterkaitan Antara Siklus Karma dan Misi Jiwa

Saya mencoba mencari jawaban dalam diri saya. Dan akhirnya saya mengerti, bahwa ini semua tentang self love, kesalahan saya dalam memahami konsep mencintai diri sendiri. 

Kita mungkin bisa mencintai orang lain ketika kita tidak mencintai diri  sendiri, namun pertanyaannya, apakah mungkin cara kita mencintai seseorang benar ketika kita bahkan tidak mengerti bagaimana caranya mencintai diri sendiri?

Pola atau siklus berulang yang terjadi pada hidup saya selalu jatuh dalam hal cinta kasih. Sesuatu yang memang bersinggungan langsung dengan misi jiwa saya. Mungkin, ini cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa saya tidak akan bisa melakukan misi jiwa saya dengan benar, selama cara saya untuk mencintai diri saya masih keliru.

Saya menyadari selama ini, ketika saya menyayangi dan peduli kepada seseorang, saya cenderung memberikan apapun yang saya milikki , tanpa berpikir bagaimana diri saya setelahnya. Sama sekali tidak ada keseimbangan antara memberi dan menerima. Proporsi Giving and receiving. 

Saya seperti orang bodoh yang selalu mengatakan pada teman saya “Its okay to think about your self first”, namun saya selalu membuat diri saya merasa bahwa saya bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah orang lain. Saya memberikan toleransi besar ketika seseorang melakukan kesalahan, namun saya bersikap terlalu keras pada diri saya sendiri. Saya marah ketika seseorang memperlakukan orang yang sayangi dengan tidak pantas, namun saya memberikan toleransi bila orang memperlakukan diri saya dengan tidak baik.

Saya menyadari bahwa orang yang selama ini bersikap tak adil pada diri saya adalah saya sendiri. Saya yang dari awal tidak tegas perihal apa yang menjadi batas dan core value saya. Kondisi ini tentu sangat berbahaya bila disaat yang bersamaan, saya masih memegang prinsip cinta kasih tanpa ego.

Prinsip cinta kasih tanpa ego, adalah bagaimana kita bisa memberi tanpa memikirkan apa yang akan kita terima nanti. Apakah prinsip ini baik? Menurut saya, ya. Prinsip ini membuat saya bahagia karena saya tidak pernah berekspektasi tentang apa yang harusnya saya dapatkan sebagai imbalan dari apa yang saya lakukan. Ini juga melatih manusia untuk lebih tulus, dan saya merasa, hal ini yang dunia butuhkan sekarang.

Namun prinsip ini tidak akan berjalan dengan baik bila kita belum menerapkan rasa cinta pada diri kita sendiri, kita juga perlu mengerti batas (self boundaries) yang dibuat sebagai bentuk apresiasi untuk diri sendiri.

Ada satu tulisan yang menyentuh hati saya, dan membuat saya sadar, kurang lebih intinya seperti ini: 

“If your life purpose tends to serve people, either emotional, physical, or whatever that connect to others, you have to make sure that you are happy. You have to feel happiness inside of you”

Kalimat tersebut menyentuh hati saya, saya menyadari saya bisa memberi advice tebaik ketika saya merasa senang, saya bisa menolong orang lain dengan lebih baik, ketika diri saya stabil.


Bagaimana Saya Menghentikan Pola Yang Terus Terulang

Satu trait buruk yang saya milikki ketika saya menyayangi seseorang adalah : saya ingin berjuang hingga akhir, saya ingin memberi kesempatan dengan harapan bahwa mungkin semua akan berubah, mungkin saya hanya perlu memberikan sedikit waktu untuk membuat semua membaik.

Tapi akhirnya, tak ada yang saya dapatkan. Ada satu masa, dimana ia membuat saya teringat bagaimana cinta bisa membuat saya bahagia, namun di sisi lain ia juga bisa membuat saya berpikir bahwa kebahagiaan merupakan hal mahal untuk saya dapatkan.  Di pembicaraan terakhir kami, saya sempat merasa bahwa saya bisa kembali percaya padanya. Ia berhasil membuat saya berpikir bahwa ini sesuatu yang mutual, namun akhirnya hal yang sama terulang kembali. 

Titik ini adalah titik dimana saya mencoba untuk mengambil kendali,  dua bulan ini saya berusaha untuk membangun rasa percaya diri saya, berada dalam kondisi ini terus menerus membuat self worth saya juga hancur, saya merasa saya tak layak , saya seperti sebuah pilihan. Dan dalam recovery yang berlangsung, saya sadar saya harus memutus siklus ini. Saya tidak bisa selalu menjadi pihak yang terus berusaha membuat semuanya membaik. 

Bila Anda masuk ke dalam siklus seperti ini dalam hidup Anda, opsi terbaik untuk menghentikannya adalah dengan melakukan hal yang berbeda dari  apa yang Anda lakukan sebelumnya. Anda harus berani untuk memutar keadaan. 

Bila Anda memiliki dua pilihan dan sebelumnya Anda memilih jalan yang kanan, ketika pola ini kembali disodorkan dalam hidup Anda,  beranikan diri Anda untuk mengambil keputusan pada apa yang belum pernah Anda pilih sebelumnya. Mudahnya, tidak mengambil tindakan yang menyebabkan kesalahan lama kembali terulang. 

Mungkin terdengar sederhana, namun tidak mudah melihat semua dengan jernih ketika Anda berdiri langsung dipusat masalah, apalagi untuk pola berulang yang bahkan tidak kita sadari selama ini. Dan hal penting dari semuanya adalah memahami apa yang hidup coba ajarkan kepada Anda. 


Memahami Makna Dari Setiap Pertemuan

Jika Anda memahami bagaimana semesta bekerja, Anda akan menyadari bahwa tidak ada satupun hal yang datang sebagai kebetulan. Saya merasa Tuhan mengatur hidup saya sangat rapih, Tuhan menempatkan semuanya pada waktu dan saat yang tepat. Walau terkadang, ego saya sebagai manusia membuat saya masih sulit untuk langsung menerima apa yang terjadi dalam hidup saya.

Ada hal lain yang terjadi ditengah proses pelepasan siklus karma saya. Kurang lebih desember tahun lalu, saya bertemu seseorang—yang mungkin dari segi umur berada jauh di atas saya. (Tak ada hal yang istimewa disini, sayapun hanya terhubung dengannya dalam ikatan formal). Namun, ada hal menarik yang dapat saya pelajari darinya. 

Dari caranya berbicara, dari bagaimana ia berpikir dan lugas mengatakan pendapatnya, Ia menunjukkan kepada saya seperti apa karakter maskulin yang sebenarnya saya inginkan. Ia memberi gambaran traits apa yang bisa membuat saya bahagia, Bukan hanya keseimbangan antara emosi dan pemikiran, namun juga perlindungan. Perasaan aman untuk seorang perempuan. 


In the end, it’s not only about: I want someone who could hug me during my hard time, not just someone who is stable and grounded, but also someone who be able to stand up for me—who makes me feel safe. Who makes me feel like we booth protect and support each other. So it is not only me—a feminine—who always be the source in a relationship. Booth sides have to do their part. And also remember the important trait from a masculine: provide and protect


Jadi akhirnya bagaimana? Saya belum memiliki jawaban, saya tak tahu siapa yang akan menjadi rumah saya nanti. Tapi untuk pertama kalinya, I felt peace with the unknown. And it's so powerful.

Bila sebelumnya saya mencintai seseorang dengan buta. Saya menerima semuanya tanpa sadar bahwa ada hal yang membuat saya tidak bahagia. Kini saya tahu apa yang saya inginkan dalam sebuah hubungan, saya mengerti apa yang bisa membuat saya bahagia. Saya tidak takut untuk memulai cerita baru, entah dengan orang baru, orang lama, atau dengan seseorang yang mungkin memiliki latar belakang yang berbeda sekalipun, that's okaybut only if I feel this is worth and match my energy. Karena saya tidak bisa hanya menerima sesuatu yang artificial, saya menginginkan koneksi yang real.

Terimakasih untuk seseorang dari 2019 yang membantu saya mempelajari pelajaran hidup penting yang harus saya mengerti, dan terimakasih untuk orang yang membantu saya menyadari apa yang  saya inginkan dalam sebuah hubungan, apa yang benar-benar bisa membuat saya bahagia.

 


Thanks for reading, 

Take care, I love you. 

Puti Sabrina